Selasa, 17 Agustus 2021

Menjadi Penulis Buku Mayor

 


Malam ini tak terasa sudah sampai pada pertemuan ke 12. Sebelum mulai materi moderator Mr. Bams  mengajak berdoa agar pelatihan  berjalan lancar.  Moderator menyampaikan  bahwa  malam ini, kita semua akan belajar bersama dengan orang hebat di sebuah penerbitan. Judul yang akan disampaikan yaitu Menulis Buku yang Diterima Penerbit Mayor.

Sebelum memulai paparan Narasumber  memperkenalkan diri. Beliau Bernama Joko Irawan Mumpuni. Direktur Penerbitan, Penerbit Andi. Anggota Dewan Pertimbangan IKAPI DIY. Ketua I, IKAPI DIY, Penulis Buku, Bersertifikat BNSP. Asesor BNSP.  Selama  20 tahun  sudah beliau hidup di dunia penerbitan, penulisan dan aktif di asosiasi penerbit di Indonesia.

Salah satu mimpi beliau yang kuat adalah ingin jadi orang yang terkenal. Salah satu cara adalah dengan menjadi penulis. Maka beliau bersahabat dengan penulis yang sudah mapan. Bersedia membantu menyempurnakan tulisan dan selanjutnya  nulis bareng sama sampai 4 judul buku. Buku ke 5 dan seterusnya sudah pakai nama sendiri dan bahkan sering diajak menulis para pemula.

Karena rata-rata buku yang ditulis menjadi best seller, maka beliau sangat disukai penerbit termasuk Penerbit ANDI. Saat Penerbit ANDI butuh Wakil Direktur yang tahu pasar buku, beliau dipanggil untuk ditawari posisi itu. Beliau menerimanya. Jabatan wakil direktur  hanya 2 tahun lalu menjadi direktur selama 17 tahun. Mulai tahun kemarin beliau tidak lagi diopersional Direktur, tetapi sudah masuk di Dewan Direksi.

 Selama di dunia penerbitan paling banyak dipertanyakan orang adalah apa syarat agar tulisan bisa diterima oleh penerbit mayor dan apa perbedaan antara penerbit minor dan penerbit Indie. Sebelum teknologi informasi berkembang pesat seperti sekarang ini; orang hanya mengenal penerbit Mayor dan penerbit Minor,  yang pasti yaitu Jumlah terbitan buku pertahun penerbit mayor jauh lebih banyak dibanding penerbit minor. Naskah yang diterima akan dikelola lebioh professional, penerbit mayor biasanya punya fasilitas lebih baik, modal, percetakan, SDM  dan  jaringan pemasaran lebih luas.

Agar karya bisa masuk diterima diterbitkan oleh penerbit mayor harus melalui seleksi dengan tingkat persaingan yang sangat  ketat. Contoh di Penerbit ANDI, tiap bulan naskah yang masuk bisa 300 sampai dengan 500 naskah dan yang diterbitkan hanya 50 sampai dengan  60 judul saja. Sisanya dikembalikan ke penulis atau DITOLAK.

Karena begitu sulitnya menembus penerbit profesional baik yang penerbit minor apalagi penerbit mayor, maka para penulis ada yang menerbitkan karyanya sendiri yang saat ini penerbit seperti ini disebut dengan Penerbit Indie.

Naskah buku seperti apa yang bisa diterima dan diterbitkan oleh Penerbit Profesional seperti penerbit ANDI?. Tentunya adalah semua naskah buku yang bisa dijadikan buku lalu laris dijual.

Kelompok besar buku dibagi menjadi 2 yaitu kelompok buku teks dan kelompok buku non teks, Buku teks adalah buku yang digunakan olah mahsiswa atau siswa dalam proses pembelajaran. Ditingkat sekolah disebut buku pelajaran disingkat BUPEL sedangkan untuk kelompok mahasiswa disebut buku perguruan tinggi disingkat PERTI.

Sedangkan buku non teks adalah sebaliknya dan cenderung disebuat sebagai buku-buku populer karena memang kontennya berupa apa saja yang populer dan dibutuhkan oleh masyarakat.Namun dalam prakteknya pemakaian buku oleh pembacanya tidak lagi terbagi-bagi menurut kelompok-kelompok tadi, apapun buku yang dibaca bisa dijadikan referensi untuk praktek kehidupan sehari hari maupun dalam rangka mendapatkan jennang akdemik yang lebih tinggi.

 Visi penerbit ANDI adalah IKUT SERTA DALAM MENCERDASKAN BANGSA, jadi baik buku teks maupun non teks tetap diterbitkan. . Jadi selama buku itu mencerdaskan baik teks maupun non teks tetap akan diterbitkan. Ada dua kategori buku yang tidak akan pernah kami terbitkan selaris apapun buku itu, yaitu Buku Pornografi dan buku Politik Praktis.

Penerbit adalah lembaga profitable yang mencari keuntungan untuk bertahan hidup dan berkembang sehingga karyawan sejahtera, komsumen puas dalam jangka waktu yg tidak terbatas. Oleh karena itu Penerbit boleh dikatakan industri. Naskah yang masuk pun akan dianggap sebagai bahan baku output industri, jika bahan baku bagus maka akan menghasilkan produk yang bagus pula. Oleh karena itu para penulis dan calon penulis harus paham cara berfikir industri penerbitan agar naskah tidak ditolak.

Ini adalah gambaran industri penerbitan secara lengkap, namun jika disederhanakan akan menjadi seperti ini

Naskah yang bisa diteriama penerbit adalah naskah yang bisa dijadikan buku dan bukunya laku terjual.

ini pembobotan penilaiannya.

Ini alasannya mengapa diterima atau ditolak

Ini datanya yang dapat kita lihat salah satunya dari Google Trend. dalam contoh grafik diatas kita mencoba uji apakah buku yang membahas tentang batu akik sedang dibutuhkan masyarakat saat ini tidak. nah ternyata tidak, buku batu akik laku sekitar tahun 2013 sampai dengan 2014. Saat ini sudah tidak lagi.


Ini adalah contih thema yang memiliki trend yang baik bisa dilihat dari grafiknya ; selalu tinggi, stabil dan tidak pernah menyentuh titik NOl.


Hindari thema-thema yang telah mati karena Corona.


Ini adalah bidang bidang baru  karena Corona, nah thema thema yang membahas seputaran bidang inilah yang kemungkinan laku.

Selanjutnya jika thema telah bagus, penerbit akan mengecek REPUTASI penulisnya, salah satu dapat ditelusuri dari Google Schoolar.seperti ini, perhatikan angka-angkanya.

Lalu apa pertimbangan penerbit dalam menentukan oplah atau jumlah cetak, inilah dasarnya:

Penerbit akan menentukan oplah tinggi jika buku itu dinilai mempunyai market lebar dan lifesycle panjang. Life cycle panjang artinya buku itu akan tetpa relevan dimasa yang akan datang dalam waktu yang panjang.




Yang disukai penerbit adalah kwadran kanan atas yaitu IDEALIS sekaligus INDUSTRIALIS

Setelah selesai pemaparan materi, berikut ini hasil diskusi bersama peserta pelatihan :

Ketika ada naskah yang tidak diterima oleh penerbit maka Penerbit tidak pernah memberi alasan yang detail ketika naskah ditolak. Alasannya hanya dengan kalimat "Belum sesuai kreteria penerbitan kami"

Trik bagi penulis pemula agar naskahnya  diterima oleh penerbit mayor sangat mudah, bersahabatlah dengan penerbit, dengan penulis-penulis yang sudah berhasil tembus penerbit mayor dan diskusilah, bertanyalah, maka jawaban2 itu akan kita dapatkan dari sana. tidak hanya jawaban yang pasti tetapi motivasi. 

Jika alasan penolakan dari sebuah naskah adalah thema tidak populer maka sulit untuk diterima, tetapi jika alasan penolakannya karena penulis kurang populer terkait dengan tema buku yg ditulisnya, maka penerbit akan menyarankan penulis tersebut mencari partner penulis lain yang namnya populer terkait dengan tema buku yg ditulis.

Cara melakukan analisa apakah buku yang kita tulis itu laku di pasar  atau tidak adalah : Untuk buku populer analisanya bisa kita cocokan salah satunya dengan data grafis di Google Trens.Namun untuk buku fiksi sebaiknya lanjutkan saja sampai selesai, lalu lanjut dengan judul lain dan bila perlu genre fksi yang lain.

Buku Fiksi akan mengalami pasang surut dipasaran tergantung pemicu dari banyak aspek. Misal saat ini yang lagi trend adalah Fiksi dengan genre Sastra Serius, sebelumnya yan laris adalah gaya fiksi K-Pop, dan sebelumnya lagi adalah novel-novel idealis begit seterusnya kan berputar. Jadi kalau sudah punya novel simpan saja dan keluarkan pada saat yang tepat.Namun kalau kita punya jaringan yang luas bisa memakai endors agar novel yang kita tulis dibaca banyak orang.

Bagi para pemula disarankan untuk menulis buku-buku dengan tema yang sedang ngtrend. Tulislah teroboslah penerbit mayor dengan setidaknya 5 judul buku yang best seller. Bila itu terjadi maka sekarang kita yang dikejar kejar penerbit mayor agar mau menerbitkan naskah melaui

Kiat untuk menentukan out line dari suatu tema misal tentang budaya daerah.jika sudah ketemu themanya , outline bisa mengambil dari kombinasi beberapa buku yang telah terbit. Saran carilah outline-outline buku bahasa asing yang dengan mudah didapat dari google play book. Kita temukan banyak buku bertema marketing dalam bahasa asing dan disana daftar isinya terbuka, gratis dapat kita adopsi sebagai outline buku kita tentunya jangan sama persis, lebih baik jika dikombinai dari beberapa outline buku.

Langkah praktis menjadi penulis, kuncinya banyak teman, suka mengalah, rendah hati, selalu merasa kurang pengetahuan.

Berikut ini sebagai perenungan dan motivasi:

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis,

Ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah (Rumah Kaca, h. 352)”

-Pramoedya Ananta Toer-

Bila  kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar,

Maka menulislah. (Al Ghazali)

Karena kita bukanlah siapa-siapa,maka menulislah agar hidup kita berguna bagi sesama selamanya..


Resume ke                            : 12

Tanggal                                 : 6 Agustus 2021

Gelombang                            : 19

Tema                                    : Menjadi Penulis Buku Mayor

Narasumber                         : Joko Irawan Mumpuni

Moderator                           : Mr. Bams

Penulis                                 : Islamiyah 

 

Senin, 16 Agustus 2021

Menulis Kelengkapan Naskah

 


Alhamdulillah sampai juga akhirnya pada pertemuan ke 16. Dengan berbagai ilmu menulis yang sudah diberikan oleh para narasumber. Kini sampai pada perlengkapan menulis buku. Sebelum mulai pelatihan moderator malam ini Ibu Aam Nurhasanah  menyapa peserta pelatihan.

Ibu Aam juga menyampaikan  permohonan doa untuk Om Jay dan teman-teman yang sedang isolasi mandiri, Semoga semuanya segera sembuh. Aamiin. Bu Aam juga mengingatkan untuk mengisi daftar hadir yang sejujurnya saya sering melupakannya. Ibu Aam juga mengingatkan bahwa persyaratan lulus adalah menulis 20 resume jadi kurang lagi 4 pertemuan.

            Malam ini pelatihan dilaksanakan bersama gelombang 19 dan 20. Narasumber malam ini adalah Ibu Theresia Sri Rahayu, S.Pd.SD biasa dipanggil  Cikgu Tere. Beliau adalah salah satu alumni gelombang ke-4 yang bukunya terbit ke penerbit mayor PT Andi Offset. Beliau lahir di Kuningan, 13 September 1984. Dari berbagai inspirasi dan motivasi  beliau membingkainya menjadi sebuah buku yang berjudul “Bukan Guru Biasa”. CV bisa diakses di link berikut ini:

https://www.cikgutere.com/2021/01/tere-bukan-liye.html

 Banyak prestasi yang sudah beliau sandang dan mulai produktif menulis setelah mengenal Om Jay. Beliau sudah menerbitkan 4 buku solo selain juga banyak buku antologi. Beliau juga dikenal dengan sebutan blogger inspiratif. Topik yang diangkat oleh narasumber pada malam ini adalah “Bukan Guru Biasa”. Predikat ini ditujukan kepada semua peserta belajar menulis.


Berikut materi yang disampaikan oleh Cikgu Tere.

Kiat khusus menulis buku yang disingkat IDOLA.

I           = Identifikasi topik menarik

D         = Daftar semua judul luar biasa

O         = Outline terperinci akan membantu

L          = Lanjut menulis isi bab

A         = Atur layout sesuai permintaan penerbit

Beberapa alasan Cekgu tere mengikuti kegiatan belajar menulis:

1.      Melakukan hobi  (Sejak kelas 3 SD sudah menulis cerita dan buku sederhana yang tidak diterbitkan)

2.      Mengubgrade skill menulis (bergabung dengan penulis lain,  membuat terus termotifasi untuk belajar jurus-jurus baru dalam menulis).

3.      Mengekspresikan diri (menulis adalah sarana menuangkan ide atau pemikiran yang sangat produktif. Kita bebas menjadi siapa saja dan menggali imajinasi kita seluas-luasnya)

4.      Jembatan meraih prestasi (menukis mendatangkan banyak manfaat diantaranya berbagai apresiasi sebgai bonus menulis)

Berkat menulis di blog yang terus menerus menjadikan ketrampilan menulis terus-menerus menjadi terasah. Seperti yang sering dikatakan Om Jay “menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi”. Tak kalah pentingnya juga bersikap terbuka dan positif terhadap saran serta kritik dari para pembaca. Berlaku sebagai pembaca buku sendiri diperlukan ketika sudah sekesai menulis untuk berlatih objektif sehingga tulisan akan  tetap terjaga kualitasnya.

Untuk memantaskan diri menjadi bagian dari “Bukan Guru Biasa” hendaknya selalu melakukan 3 B yaitu: Belajar, berkarya dan berbagi. Cari ilmunya, tuangkan lewat karya nyata, dan bagikan karya tersebut hingga dapat menginspirasi bagi orang lain.

            Kelengkapan naskah buku terdiri dari: 

  1. Prakata
  2. Daftar isi
  3. sinopsis
  4. profil penulis

1.       Prakata

Merupakan ungkapan hati penulis buku. Panjang prakata berkisar antara satu sampai dua halaman, namun lebih efektif satu halaman. Berisi ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung penulis, menggambarkan isi buku secara ringkas, sasaran pembaca, keunggulan buku, dan pesan bagi pembaca.

Prakata berbeda dengan kata pengantar.

Prakata :

·         Dituliskan oleh penulis buku itu sendiri

·         Biasanya terdapat di karya tulis ilmiah, jurnal, dsb

·         Umumnya ditulis lebih singkat dan ringkas

Kata pengantar:

·         Dituliskan oleh orang lain (penerbit, senior orang yang berkompeten)

·         Biasanya terdapat di  buku

·         Umumnya ditulis lebih panjang, mengulas buku dengan lebih mendalam 

2.     .Daftar isi

Disebut juga outline/kerangka. Manfaatnya adalah sebagai berikut:

·         Memudahkan proses penulisan

·         Memnuat oenulis tidak bingung

·         Bahan presentasi ke penerbit

·         Menjadikan tulisan lebih sistematis

·         Membuat penulis focus pada inti tulisan

·         Menjamin kelengkapan tulisan

          Cikgu Tere membagikan caraa membuat daftar isi otomatis menggunakan Microsoft word. Silakan dieksplore lagi menu dan tab Microsoft word. Kuncinya ada di Heading 1 dan Heading 2.


1.     Sinopsis

Merupakan  ringkasan keseluruhan dari cerita.

·         Sinopsis ditulis untuk mempermudah pembaca dalam memahami isi cerita

·         Penulisannya menggunakan Bahasa yang lugas dan mudah dimengerti

·         Sinopsis juga menyajikan alur cerita secara lengkap namun lebih ringkas

            Sinopsis berbeda dengan BLURB.

BLURB adalah bagian  menarik dari sebuah buku yang dituliskan dengan kata-kata emmikat dan mengundang rasa ingin tahu pembaca sehingga mereka ingin membaca keseluruhan isi buku tersebut.

Jadi sinopsis menceritakan keseluruhan isi buku secara ringkas. Sedangkan Blurb hanya menuliskan bagian - bagian menarik dari sebuah buku.  Penanda utama blurb adalah pertanyaan yang mengundang rasa ingin tahu pembaca. Berikut ini adalah contoh Blurb.


1.     Profil Penulis

Profil penulis menjelaskan tentang cerita oenting terkait diri penulis. Biasanya disajikan dalam bentuk narasi. Penulisannya singkat, padat, dan ringkas. Hanya menyajikan cerita yang penting dan relevan. Memuat informasi kontak penulis.

Hal penting yang harus diperhatikan adalah profil penulis merupakan pendukung isi buku yang kita tulis.  Maksudnya jika kita menulis tentang tips menulis di blog,  minimal kita sudah mempunyai kompetensi di bidang itu.  Mungkin kita bisa menuliskan penghargaan sebagai blogger,  dll. Juga harus relevan.  Misalnya kita menulis tentang pendidikan, tapi kita berlatar belakang non pendidikan,  maka itu tidak relevan.  Sehingga dapat menurunkan kepercayaan pembaca buku kita.

Dan hal penting lainnya adalah menuliskan nomor kontak penulis yang dapat dihubungi.  Terutama adalah jika pihak penerbit ingin melakukan editing dan perlu menghubungi kita.  Selain itu bisa juga menjalin komunikasi dengan para pembaca buku kita. Misalnya ketika kita menulis buku tentang Aplikasi Pembelajaran,  bisa saja kita dihubungi oleh pembaca yang ingin mengundang kita sebagai narasumber pelatihan terkait topik tersebut.

Menulislah terus agar mahkota menulis yaitu menerbitkan sebuah buku bisa terwujud.

Resume ke                  : 16

Tanggal                       : 16 Agustus 2021

Gelombang                  : 19

Tema                           : Menulis Kelengkapan Naskah

Narasumber                 : Theresia Sri Rahayu, S. Pd. SD

Moderator                   : Aam Nurhasanah

Penulis                         : Islamiyah


Jumat, 13 Agustus 2021

Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan

 

Resume ke      : 15

Tanggal           : 13 Agustus 2021

Gelombang      : 19

Tema               : Proofreading  Sebelum Menerbitkan Tulisan

Narasumber     : Susanto, S. Pd.

Moderator       : Maesaroh

Penulis             : Islamiyah

 

            Malam ini pertemuan ke 15. Ibu Maesaroh, M. Pd. Sang bloger milenial membersamai kita sebagai moderator.  Beliau sudah 2 minggu meninggalkan dunia maya untuk menjaga Orang tua beliau yang sedang sakit. Semoga orang tua ibu Maesaroh segera sembuh dan diangkat semua penyakitnya. Aamiin.

            Ibu maesaroh membuka pelatihan dengan membuat tulisan bahwa tindakan kreatif dalam menulis adalah menumpahkan ide-ide baru dalam menciptakan makna tulisan yang mudah dimengerti pembaca. Terkadang, sebuah tulisan akan menimbulkan kekeliruan makna apabila tidak ditulis dengan teliti dan cermat.  Maka dari itu,  sebelum mempublikasikan tulisan, ada hal yang harus di perhatikan yaitu  melakukan Proofreading  Sebelum Menerbitkan Tulisan.

Malam ini seorang Narasumber hebat  bernama  Bapak Susanto, S.Pd atau akrab disapa dengan sebutan Pak D Susanto. Beliau akan  menyampaikan ilmu tentang bagaimana tulisan bisa terpublikasi dengan baik tanpa ada kesalahan dalam menulis atau dikenal dengan istilah "Typo", kesalahan ejaan atau pun tanda baca.

Beliau merupakan seorang Guru Kelas SDN Mardiharjo, Kab. Musi Rawas, Prov. Sumatera Selatan, yang dilahirkan Gombong Kebumen, 29 Juni 1971. Seorang sarjana S1 PGSD ini sangat mahir dalam editing sehingga kemahiran itu mengantarkan beliau menjadi seorang editor pada komunitas pelatihan menulis asuhan Om Jay.Setelah share CV Narasumber Ibu Moderator mempersilakan kepada Narasumber untuk menyampaikan materi. Malam ini ada penggabungan kelas anatar gelombang 19 dan 20.

Swasunting, dilakukan setelah selesai menulis, jangan menyunting sambil menulis, fokus penyuntingan pada kesalahan penulisan, ejaan, kata baku, aturan penulisan, dan logika cerita. Selain itu harus kejam pada tulisan sendiri. Terakhir adalah berpegangan pada KBBI dan PUEBI.

Topik bahasan malam ini adalah:nPrrofreading sebelum Menerbitkan Tulisan. Beliau merasa bukan "proofreader profesional atau editor profesional"  Namun, sebenarnya beliau adalah editor yang handal. Terbukti dari  beberapa teman  beliau di grup menulis, memberi kesempatan untuk membaca naskah-naskah mereka lalu meminta beliau untuk mengedit tulisannya.

Beberapa buku  di dalamnya  beliau sebagai editor di antaranya:

1.         Kunci Sukses Menjadi Moderator Online (Aam Nurhasanah), Desember 2020.

2.         Patidusa Pujangga Wiyata, Antologi Puisi Nusantara Bergema (Aam Nurhanasa, dkk), Januari 2021.

3.         Bait-bait Kerinduan, Antologi Puisi Ungkapan Rasa Rindu (Rofiana, S.Pd., dkk), Maret 2021, Januari 2021.

4.         Haru Biru Perjalananku, Catatan Perjalanan Tugas Kepala Sekolah Daerah Terpencil dan Satu Atap (“Ambu” Tini Sumartini), Maret 2021.

5.         Merajut Goresan Tinta Berbuah Karya (Herni Sunarya Banah, S.Pd.), Maret 2021.

6.         Purwakarya Literasi, antologi peserta Gel 18 (2021)

7.         Membongkar Rahasia Menulis ala Guru Blogger (Bersama Bu Noralia Puspa Yunita dkk), Juli 2021.

Proofreading atau kadang disebut dengan uji-baca adalah membaca ulang sebuah tulisan, tujuannya adalah untuk memeriksa apakah terdapat kesalahan dalam teks tersebut.Intinya, Proofreading adalah aktivitas memeriksa kesalahan dalam teks dengan cermat sebelum dipublikasikan atau dibagikan.Oleh karena itu, kegiatan ini sesungguhnya adalah kegiatan akhir setelah tulisan diselesaikan.

Dalam hal ini sangat sesuai dengan nasihat para pakar menulis, yakni: "Tulis saja, jangan pedulikan teknis. Salah nggak papa mumpung ide masih mengalir. Jika sudah selesai, barulah kita lakukan editing."

Yang sering terjadi, Ketika "sedang" menulis, muncul keinginan agar tulisan ini harus sempurna. Sehingga, muncul kehawatiran: nanti tulisan jelek, tidak layak baca, banyak kesalahan ejaan, kalimatnya tidak pas, dan sebagainya. Akhirnya terjebak untuk segera memperbaiki. alih alih tulisan menjadi lebih baik, malah tulisan "nggak jadi-jadi".

Hal lain (biasanya seorang blogger) ingin segera menerbitkan tulisan. Begitu selesai menulis, mungkin karena mengejar target atau ingin segera memublikasikan, langsung klik tombol kirim maksud hati membuat tulisan yang menarik, akibat kekurangcermatan dalam pengetikan tulisan di blog, tulisan menjadi berkurang nilai kemenarikannya.

Oleh karena itu, proofreading sangat penting. Ketimbang kita "menyewa" proofreader, lebih baik kita lakukan sendiri.

Dalam proofreading, memeriksa apakah terdapat kesalahan dalam teks yang dimaksud  adalah memeriksa kesalahan penggunaan tanda baca, ejaan, konsistensi dalam penggunaan nama atau istilah, hingga pemenggalan kata.

Apa bedanya dengan mengedit?

Editing lebih fokus pada aspek kebahasaan, sedangkan proofreading selain aspek kebahasaan, juga harus memperhatikan isi atau substansi dari sebuah tulisan. Jadi, proofreading tidak sekadar menyoroti kesalahan tanda baca atau ejaan, tetapi juga logika dari sebuah tulisan, apakah sudah masuk di akal atau belum.

Ada juga yang berpendapat: Pengeditan merupakan proses yang melibatkan perubahan besar pada konten, struktur, dan bahasa, sedangkan proofreading hanya berfokus pada kesalahan kecil dan inkonsistensi.

Tugas seorang proofreader bukan hanya membetulkan ejaan atau tanda baca.Seorang proofreader juga harus memastikan bahwa tulisan yang sedang  diuji-baca bisa diterima logika dan dipahami pembacanya.Jadi, harus dapat mengenali apakah sebuah kalimat efektif, struturnya sudah tepat atau belum, hingga memastikan agar substansi tulisan dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca.

Orang  yang jago bahasa asing, jika mendapatkan tugas untuk menguji-baca sebuah teks terjemahan. Output yang dihasilkannya adalah sebuah teks yang mudah dipahami meski bagi orang yang tidak mengetahui bahasa asal teks terjemahan tersebut.Jadi kesimpulannya adalah tugas seorang proofreader adalah untuk membuat teks mudah dipahami pembaca dan tidak kehilangan substansi awalnya.

Beliau Cerita pengalaman sedikit ketika menjadi proofreader dan mengedit naskah antologi. Ada tulisan yang sudah bagus, uraian sesuai tema, struktur bahasanya bagus, kalimat yang digunakan tidak terlalu panjang, tetapi terjadi kesalahan dalam meletakkan tanda koma atau tanda baca lainnya.

Ada juga tulisan yang masih "kacau" dari segi struktur, misalnya karena kalimatnya berupa kalimat majemuk yang terdiri dari banyak sekali kalimat tunggal, maka proofreader harus bisa memanngkasnya dan menjadikannya kalimat yang mudah dipahami. Tentu substansi dan maksud penulis tidak berubah.

Sebagai penulis kita juga bertindak sebagai proofreader, sebelum tulisan dipublikasikan di blog atau naskah buku dikirimkan ke penerbit. Jika kita diminta menjadi proofreader tulisan orang lain, proofreader bersifat netral.Seorang proofreader akan menilai karya secara objektif.

 langkah yang diambil adalah seorang proofreader  akan bertindak sebagai seorang “pembaca” dan menilai apakah karya penulis sudah bisa dimengerti atau justru berbelit-belit. Harapannya, setelah melewati tahapan proofreading, karya sang penulis bisa lebih mudah dipahami pembaca. Bukankah kita menulis agar orang memahami ide yang dituangkan?

Bagaimana melakukanProofreading?

1.  Cek ejaan. Ejaan ini merujuk ke KBBI, tetapi ada beberapa kata yang mencerminkan gaya penerbit.

2.  Pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI

3.  Konsistensi nama dan ketentuan

4.  Perhatikan judul bab dan penomorannya

Penulis yang melakukan proofreading sesungguhnya sedang bertindak sebagai seorang “pembaca” dan menilai apakah karya tulisnya sudah bisa dimengerti dengan mudah. Jika kita seorang blogger  agar menghindari kesalahan kecil yang tidak perlu misalnya typo atau kesalahan penulisan kata dan penyingkatan kata.

Meskipun blog itu milik pribadi dan bebas, pembaca  juga harus diperhatikan. Tidak ada kesalahan penulisan (typo) akan membuat pembaca nyaman.Kesalahan kecil lainnya misalnya, memberi spasi (jarak) kata dan tanda koma, tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Tanda-tanda baca tersebut tidak boleh diketik terpisah dari kata yang mengikutinya.

Cara mudah untuk memeriksa tulisan.

Baik di Ms Word maupun di blog dilakukan pencarian dengan menekan tombol CTRL bersamaan dengan tombol huruf F (CTRL+F). Lalu, ketik misalnya tanda "," (tanda koma)maka akan muncul highlight teks dengan warna kuning. Setelah itu kita periksa apakah ada kesalahan atau ada spasi antara kata dengan tanda koma.

Hal yang sama lakukan pada tanda baca lainnya. Jika hal ini kita lakukan maka pos blog menjadi bersih dari kesalahan pengetikan.Kesalahan kecil lainnya yang biasa dilakukan adalah penulisan di- sebagai awalan dan di sebagai kata depan.Sebelum dipublikasikan, kita lihat di pratinjau (preview) lalu jika ada kesalahan, pada draf kita tekan tombol CTRL+F  lalu melakukan proses perbaikan tulisan. Jika kata yang mengikuti di adalah verba atau kata kerja maka di ditulis serangkai dan kata itu ada bentuk aktifnya yaitu jika diberi imbuhan me-.

Aturan ejaan lainnya yang ada dalam PUEBI wajib kita pahami. Meskipun blog tidak mensyaratkan bahasa yang baku (kan suka-suka penulisnya) tetapi minimal wajib tahu dan menerapkan aturan-aturan yang dicontohkan. Kita cinta Bahasa Indonesia, ‘kan?

 teks asli.

Membuat cerita fiksi memang sedikit berbeda dengan cerita non fiksi. Tetapi cerita non fiksi dapat disampaikan dengan gaya cerita fiksi agar lebih menarik. Tentu sepanjang tidak bertentangan dengan aturan penulisan karya non fiksi yang telah ditentukan, seperti makalah ilmiah, laporan penelitian, dan sejenisnya.

Teks Perbaikan

Membuat cerita fiksi memang sedikit berbeda dengan cerita nonfiksi. Tetapi, cerita nonfiksi dapat disampaikan dengan gaya cerita fiksi agar lebih menarik. Tentu sepanjang tidak bertentangan dengan aturan penulisan karya nonfiksi yang telah ditentukan, seperti makalah ilmiah, laporan penelitian, dan sejenisnya.Dalam KBBI:non (adv) tidak; bukan: nonaktif; nonberas.

            Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara). Misalnya: Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup. Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya. Jadi, jika melakukan proofreading  harus  menggunakan  Alat Bantu, yaitu: 1. puebi daring; 2. kbbi daring.

cara edit yang efektif agar tulisan kita sesuai standar EYD dan aturan penulisan adalah pahami aturan dasar: Struktur, minimal ada S-P. Aturan Huruf kapital, aturan tanda baca, aturan pemenggalan kata, dan sebagainya.

Pada penerbit sudah ada petugas proofreader dan kata Pak Joko Penerbit ANDI, kalau tidak salah, unsur ejaan porsinya hanya 10% pada penilaian naskah.Tetapi, jika tidak dilakukan proofreading, siapa tahu banyak kesalahan yang  menyebabkan editor penerbitan malah memberi skor kecil bagi tulisan kita.

Jika tidak mampu melakukan proofreading sendiri, bisa meminta tolong jasa proofreader profesional. Biayanya bervariasi, menurut salah satu situs penyedia jasa proofreader yang saya ketahui.


Pahami struktur kalimat, pahami PUEBI, buka KBBI jika ragu dengan kata-kata tertentu. Mempelajari PUEBI yang tebal, kadang membosankan, maka Pak D buat flyer untuk memudahkan belajar dan mengingat. Contoh fliyer seperti di bawah ini.






 Berilah spasi sesudah mengetik tanda koma, misalnya: satu, dua, … tiga. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Misalnya: Apa pun permasalahan yang muncul, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.

Sebagai kata penutup dari Pak De. Kita tidak mungkin menguasai segalanya, hanya orang-orang tertentu yang ditakdirkan memiliki kompetensi: penulis, proofreader, editor, sekaligus. Berbahagialah Anda yang memiliki talenta ketiganya. Namun setidaknya sebagai penulis memiliki keterampilan minimal sebaga penyunting tulisan sendiri, agar calon pembaca kita memahami apa yang kita maksudkan dalam tulisan. Kalimatmu jangan panjang-panjang, ushakan maksimal 20 kata saja. https://blogsusanto.com/kalimatmu-kepanjangan.

Luar biasa materi malam ini, materi yang benar-benar  menambah wawasan dan pengetahuan. Trimakasih Pak D atas ilmu yang sudah disampaikan malam ini. Semoga menjadi amal ibadah dan mendapatkan balasan sebagai amal kebaikan.


Kiat Menulis Cerita Fiksi

 


Resume ke      : 13

Tanggal           : 9 Agsutus 2021

Gelombang      : 19

Tema               : Kiat Menulis Cerita Fiksi

Narasumber     : Sudomo, S. Pt.

Moderator       : Aam Nurhasanah

Penulis             : Islamiyah

 

            Malam ini Om Jay membuka salam sebelum mulai pelatihan dan mengatakan bahwa  ada materi tambahan  yaitu Menulis Cerita Fiksi. Kemudian baru Om Jay menyerahkan  kepada Ibu Aam Nurhasanah sebagai moderator untuk memimpin jalannya perkuliahan.

            Pertemuan malam ini sudah menginjak yang ke 13. Sebagai  Narasumbernya adalah  Bapak Sudomo, S. Pt. yang biasa dipanggil besan oleh Ibu Aam. Beliau lahir dan besar di Sukoharjo Jawa Tengah. Nama  beliau ini sudah tidak asing lagi di telinga saya karena dulu saya sempat mengajar di daerah yang sama dengan beliau dan sama – sama mengajar mata pelajaran IPA, tetapi saya mutasi ke daerah lain. “Keren”, itu yang bisa saya ungkapkan di sini.  Sarjana peternakan  yang mengajar IPA dan mahir bermain diksi. Tema yang akan disampaikan  yaitu Kiat Menulis Cerita Fiksi.

Cerita punya cerita ada beberapa perbedan antara saya dengan beliau. Perbedaan yang pertama sepertinya hanya sedikit saja, beliau sarjana peternakan sedangkan saya sarjana pertanian dan sama – sama mengajar IPA. Perbedaan yang ke dua sangat jauh yakni beliau pandai berpuisi dan menulis buku sedangkan saya baru belajar menulis. Saya kagum sekali. Tetapi itu motivasi buat saya untuk terus maju pantang mundur.

Dalam cerita pengalaman menulis ternyata banyak sekali karya yang sudah diterbitkan. Sebuah perjalanan panjang yang akhirnya mengantarkan beliau  terbawa semakin dalam ke dunia menulis fiksi. Saat membuat  tugas resume kelas menulis bersama  PGRI Angkatan 16, Beliau mencoba tampil beda, yaitu dengan menulis resume tengan Teknik puisi.

Barikut materi dari Narasumber :

1.      Pertama,  mengapa kita harus menulis fiksi?

 Ini penting karena menjadi dasar bagi kita untuk belajar menulis fiksi.

Alasan utama adalah salah satu materi dalam tes Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)  adalah Teks Literasi Fiksi. Artinya saat ini kita sebagai guru harus bisa menulis fiksi. Tujuannya agar mudah menyediakan soal latihan bagi murid kita.

Alasan berikutnya adalah dengan menulis fiksi akan bermanfaat dalam pengembangan profesi kita sebagai guru. Kumpulan cerita fiksi bisa dibukukan sebagai syarat kenaikan pangkat. Novel termasuk kategori karya seni kompleks. Kumpulan cerpen bisa termasuk kategori karya seni sederhana.

2.   Kedua, syarat menulis fiksi,  yaitu komitmen, riset, membaca karya fiksi, mempelajari KBBI dan PUEBI, memahami dasar menulis fiksi, dan menjaga konsistensi menulis fiksi.

3.      Ketiga, bentuk-bentuk cerita fiksi, yaitu fiksimini, flash fiction, pentigraf, cerpen, prosa, novela, dan novel.

Perbedaan terletak pada kompleksitas konflik cerita. Selain itu ada juga batasan kata dan ada juga yang menggunakan batasan paragraf.

4.      Keempat, unsur-unsur pembentuk cerita fiksi, yaitu tema, premis, alur/plot, penokohan, latar/setting, dan sudut pandang. Dari sekian unsur ada premis yang mungkin baru bagi Bapak/Ibu.

 Apa itu premis?  Premis adalah ringkasan cerita dalam satu kalimat. Terdiri dari karakter, tujuan tokoh, rintangan/halangan, dan resolusi.

 Contoh premis: Seorang anak memiliki kemampuan sihir bersekolah di sekolah sihir yang harus melawan penyihir jahat demi kedamaian bumi. Dari contoh jika dijabarkan adalah sebagai berikut:

Karakter          : anak

tujuan tokoh    : kedamaian bumi

rintangan         : melawan penyihir jahat

resolus             i: belajar sihir

5.      Kelima, kiat menulis fiksi.

- Niat, terkait motivasi diri memulai dan menyelesaikan tulisan;

- Baca karya orang lain, bahan referensi, gaya bercerita, menambah diksi

- Ide dan Genre, terkait mencatat ide dan pilihan genre yang disukai dan dikuasai

- Outline, terkait kerangka tulisan berdasarkan unsur-unsur pembentuk cerita fiksi

Menulis, terkait membuka  cerita, mengenalkan tokoh, menguatkan konflik, menggunakan pertimbangan logika cerita, susunan kalimat pendek dan jelas, pilihan kata, teknik show don't tell, dan ending yang baik.

 Swasunting, dilakukan setelah selesai menulis, jangan menyunting sambil menulis, fokus penyuntingan pada kesalahan penulisan, ejaan, kata baku, aturan penulisan, dan logika cerita. Selain itu harus kejam pada tulisan sendiri. Terakhir adalah berpegangan pada KBBI dan PUEBI.

            Agar  bisa mengasah teknik show don't tell(Menunjukan tapi tidak memberitahu)  harus melatihnya dengan terus mencoba menulisnya. Tentu pertama harus memahami teknik show don't tell terlebih dahulu. Sebagai contoh yang mudah bisa kita mulai berlatih dari kata sifat, misalnya sedih. Dengan teknik ini kita akan membangun suasana sedih tokoh tanpa harus menuliskan kata sedih.

Contoh: Tehnik tell. Mira sangat sedih melihat jenazah ibunya.

Tehnik show

Dadanya terasa sesak, napas terasa tersekat di tenggorokan, terdengar isakan dibarengi dengan derai air mata yang tak kunjung usai sembari menatap tubuh wanita yang melahirkannya terbujur kaku di ranjang.

Kisah nyata sangat bisa dijadikan cerita fiksi. Istilah kerennya based on true story. Ini akan membuat cerita fiksi lebih dekat dengan pembacanya. Sedangkan cara memanjangkan cerita fiksi salah satunya adalah menggunakan teknik show don't tell. Kalau untuk jenis novel panjang, tentu harus disiapkan outline/kerangka dengan beberapa konflik yang baik.

Membuat cerita agar hidup  dan menarik pembaca  untuk membaca hingga akhir adalah bisa dengan cara menguatkan karakter tokoh dan membangun suasana yang baik.Sedangkan cerita yang baik adalah yang menjawab konflik cerita. Berlaku juga untuk akhir yang menggantung. Agar disukai pembaca bisa dibuat menggantung atau plot twist.

.           Aturan tanda baca penulisan fiksi sama seperti pada umumnya, yaitu mengacu pada PUEBI; . Tanda kutip dialog pada kalimat tanya langsung. Dialog tanpa tanda kutip bisa pada narasi paragraf. Contoh: Saya akan ke sana, seingatku aku pernah mengatakan itu.

Fiksimini adalah fiksi sangat singkat biasanya beberapa kata saja. Contohnya ANJING DILARANG MASUK. Politisi itu tertegun di depan pagar rumahnya. Flash fiction adalah cerita kilat, biasanya memakai batas jumlah kata khusus, misalnya 50 kata, 100 kata, dll. Pentigraf adalah cerpen tiga paragraf.

Sebagai tantangan, Bapak Sudomo mempersilakan  peserta pelatihan menulis untuk membuat resume semenarik mungkin. Resume terbaik pertemuan malam ini berhak mendapatkan hadiah buku karya beliau (bebas memilih judul).Pertemua mala mini ditutup dengan harapan semoga bermanfaat

"Menulislah selagi sempat, jika tidak juga sempat, maka sempatkanlah"

"Belajar terus, seterusnya pembelajar"